“Ingsun Titip Tajug lan Faqir Miskin” (Aku titip masjid dan fakir miskin) Sunan Gunung Djati
Munawar Fuad NOEH, budak lembur Cibarusah, dimasa kecil biasa dipanggil Ateng, padahal di Kartu Tanda Penduduk atau dokumen resmi tak ada kata itu.. Ceritanya, di lingkungan Kampung Babakan Cibarusah (KBC), kerap terdapat inisial, atribusi atau katanya gelar keturunan disematkan RADEN.
Banyak keluarga di lingkungan KBC melekatkan tulisan Raden, lalu keluarganya memanggil raden, dengan plesetan cadel, panggilan aten atau ateng. Begitulah para orang tua dan leluhur menuturkan banyak cerita lahirnya sebuah kampung Bernama Babakan Cibarusah yang saat itu menjadi bagian Bogor, hingga tahun 1950 Cibarusah menjadi bagian Bekasi.
Banyak cerita lisan dan kisah terpendam dan sebagian terungkap lewat publikasi media online, buku, penelitian, karya ilmiah dan kesaksian sejumlah tokoh nasional dan lokal, tentang Cibarusah dan sejarahnya yang terus berkembang dalam beragam kesaksian menjadi warisan agung para leluhur untuk diteruskan dari generasi ke generasi.
Kedua orang tua Ateng, Ustaz Enoh dan Ibu Enah, selalu berpesan: “Jangan mengutamakan bangun rumah sendiri, pesantren, sekolah atau apapun sebelum membangun dan memakmurkan MASJID, dahulukan Makmurkan Masjid, karena masjid adalah Rumah Tuhan, Baitullah”.
Lebih tegas lagi, Mamak Kyai Enoh menegaskan Jangan pernah jauh dari Ulama dan Masjid jika ingin hidup selamat dan Bahagia. Demikian pula, Mamak Kyai Enoh kerap menyampaikan pituah para wali, Sunan Gunung Jati, Syekh Syarif Hidayatullah kepada umat: *Ingsun titip tajug lan faqir miskin* (Saya titip masjid dan fakir miskin), maksudnya sebuah amanah kepada umat untuk membangun masjid dan melayani dan memakmurkan Fakir Miskin.
Pesan kuat kedua orang tuanya kepada Kang Fuad, meskipun bekerja sebagai apa dan dimanapun berada, jadilan Pelayan Rumah Tuhan, Baitullah, alias Pelayan ERTE, RT artinya Rumah Tuhan.
Lebih dari setengah abad, dengan spirit itulah Kang Fuad menapaki setiap jejak dan pendakian dalam perjalan meniti kehidupan meskipun ditempa kemiskinan dan serba kekurangan secara material dan kekayaan.
Sebagai Urang Sunda Asli, mulai banyak yang menyebutnya Kang Fuad, sejak kecil hingga saat ini, aktifitas Kang Fuad apapun tak pernah jauh dari masjid, baik dalam lingkungan fisik geospasial, sosial maupun spiritual. Ayahnya, Kyai Haji Raden Enoh Inayatillah Ahmad, seorang Guru Agama, Ustaz, ajengan, atau Kyai penggiat keagamaan dan Ibunya, Hajjah Raden Enah Maskanah, Guru Agama di Sekolah Dasar, menuntun masa kecilnya yang tinggal di area depan mimbar imam Masjid Al-Mujahidin kampung Babakan Cibarusah
Di lingkungan terdekat itulah Kang Fuad menjalani masa kecil, bertumbuh remaja hingga dewasa.
Perjalanan panjang beraktifitas sebagai penggiat keumatan dan kemasjidan, Kang Fuad mendapat Amanah menjadi Pelayan Masjid di tingkat Nasional sebagai Pengurus Dewan Masjid Indonesia Pusat hingga menjadi Ketua DMI Pusat dan juga Direktur Program Nasional DMI Pusat yang mendapat tugas dari Ketua Umum Haji Muhammad Jusuf Kalla hingga lebih dari 12 tahun.
Atas kepercayaan itulah Kang Fuad berkeliling dari masjid ke masjid di seluruh Indonesia, spiritnya untuk belajar dan belajar, bagaimana menata masjid sebagai rumah Allah, peran masjid dan kemajuan serta kemakmuran hingga posisi masjid sebagai pusat dan kekuatan infrastruktur sosial dan spiritual, termasuk transformasi kemakmuran ekonomi dan beragam kreatifitas dan inovasi dalam membangun kemajuan dan kemakmuran peradaban berbasis masjid dan keumatan di era digital dan kekinian.
Di tengah pekerjaannya sebagai GURU sebagaimana amanah kedua orang tuanya, Kang Fuad mengabdi sebagai DOSEN lebih dari 30 tahun tanpa henti, karena mengikuti teladan sepanjang hayatnya. Berkah doa dan restu Kedua orang Tua dan para Guru, Ustaz, Kyai dan perjalanan pendidikannya, meskipun menjalani aktifitas sebagai aktivis pemimpin keagamaan, kepemudaan, sosial dan kenegaraan, bertugas dalam banyak posisi kebijakan publik dan korporasi di pemerintahan pusat hingga daerah, lalu bertugas meniti penugasan diplomasi publik di mancanegara, tak pernah lepas dari tambatan Qalbunya, yaitu Rumah Tuhan Masjid.
Atas permohonan para sesepuh dan warga sekitar Masjid Al Mujahidin di Kampungnya, Kang Fuad mendapat amanah dan harapan warga dan jamaah yang tak pernah dia mengajukan diri apalagi berambisi sebagai Ketua Takmir DKM Masjid Al Mujahidin.
Begitu banyak tumpuan harapan warga untuk membenahi dan membangun kembali lingkungan Masjid Al Mujahidin Kampung Babakan. Setelah memohon doa Ibundanya, para Sesepuh dan Guru, seraya beristikhoroh, Kang Fuad menerima harapan dan amanah para sesepuh dan warga di lingkungan Masjid Al Mujahidin.
Berbekal pengkajian dan pemahamannya secara mendalam tentang kisah dan sejarah Masjid Al Mujahidin yang dibaca dan menerima berbagai sumber yang sah dan meyakinkan, Kang Fuad bersama para pengurus menyiapkan rencana dan tujuan mulia menunaikan cita, perjuangan dan amanah para Pejuang, MUJAHID, melalui Masjid sebagai Pusat Perjuangan para Pejuang (MUJAHIDIN) dan Penggerak Peradaban kemajuan dan kemakmuran.
Pada masa pengabdiannya, segala upaya dan sumber daya dikerahkan bersama para pengurus, sesepuh dan warga.
Berkah BERJAMAAH, kebersamaan para warga dan keluarga lingkungan Cibarusah, juga para sahabat dan koleganya Kang Fuad merintis pelestarian kesejarahan dan pembangunan renovasi untuk kemakmuran dengan membangun Menara, Gedung perluasan tiga lantai, penataan sarana dan prasarana, serta berbagai pembaharuan manajemen masjid yang terbuka dan profesional, terutama penyempurnaan kegiatan ibadah, ukhuwwah, dakwah dan pemberdayaan ekonomi jamaah dan umat. Masjid Al Mujahidin terus mendapat legitimasi dan ditetapkan oleh Pemerintah sebagai situs bersejarah Masjid Perjuangan untuk agama dan Indonesia, peran besanya menjadi saksi perjuangan merebut dan mempertahankan. kemerdekaan Indonesia tak lepas dari sejarah Pusat Pelatihan Perang Laskar.
Hizbullah Sabilillah
Sekedar menyebutkan beragam kegiatan pengurus dan jamaah sepanjang Kang Fuad menjadi Pelayan Rumah Tuhan di Masjid Al Mujahidin: Menata arah cita dan visi Mulia Memakmurkan Masjid dan Jamaah; Menghimpun peran serta terbuka jamaah menjadi pengurus; menjalinkan silaturahmi dengan Istana Kepresiden, Kerjasama Kementerian, Lembaga TNI, POLRI, BAZNAS, Duta Besar Negara Islam, Korporasi lokal maupun nasional, Perbankan Islam, Televisi Nasional dan terkhusus.
Lembaga Kemasjidan seperti Dewan Masjid Indonesia, Takmir Masjid Nahdlatul Ulama, Muhammadiyah, serta penggiat dakwah dan seni budaya Islam, mengundang ulama dan dai nasional dan tokoh ulama dari berbagai kalangan.
Hasilnya Pembangunan renovasi Masjid terwujud dengan tetap menjaga nilai sejarah, budaya, dan warisan para muassis, pendiri dan perintis, termasuk pemberi wakaf. Kegiatan ibadah dan dakwah ramai dan meningkat, jalinan ukhuwwah dan program kemakmuran terus hidup dan layanan manajemen yang tertata baik, layak dan teraudit terhadap Masjid sebagai Rumah Allah juga semakin tertata baik.
Tak luput masih ada yang belum tuntas dan penuh kekurangang untuk terus diperbaiki oleh generasi selanjutnya..
Amanah pun makin meluas hingga kini, di lingkungan Pengurus Besar Nahdlatul Ulama, PBNU, Kang Fuad kembali mendapat Amanah melayani masjid-masjid Nahdlatul di bumi nusantara sebagai Sekretaris hingga Wakil Ketua Lembaga Takmir Masjid Nahdlatul Ulama PBNU hingga 2027.
Berkah pengabdian sebagai Pelayan Rumah Tuhan, Fuad sejak masa Kyai Haji Ma’ruf Amin menjadi Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia hingga kini dipimpin Kyai Haji Anwar Iskandar, Kang Fuad mendapat amanah sebagai Wakil Ketua Komisi Hukum dan HAM MUI Pusat hingga 2030.
Beragam ide, gagasan, inisiasi dan pergerakan memakmurkan masjid dan memakmurkan jamaah, tertuang dalam dalam 10 Program Dewan Masjid Indonesia secara nasional termaktub dalam 9 Program Lembaga Takmir Masjid Pengurus Besar Nahdlatul Ulama serta terangkum dalam Visi Masjid Madani: Makmur Berdaya Harmoni dengan 17 Program Aksi berkesinambungan dalam bingkai Program Asta Darma (Delapan Program Keumatan) yang terus berjalan di berbagai daerah di Indonesia bahkan mulai merambah dan menggema hingga ke mancanegara.
Ikhtiar Kang Fuad untuk mewujudkan Kembali spirit Membangun dan Merawat Peradaban Berbasis Masjid dengan menjalinkan Ukhuwwah Digitaliyah semakin terang dengan melahirkan Platform Applikasi nasional dan global Keumatan dan Kemasjidan diberi nama ISalaam, iSalaam Coonecting Ummah, untuk transformasi keumatan dan kemasjidan karya para santri anak negeri, dari Masjid MADANI untuk NKRI dan Semesta. Tentu saja, perjuangan Kang Fuad bersama para pecinta, penggerak, dan penggiat keumatan dan kemasjidan masih panjang, yang hingga kini terus terjalin Kerjasama bersama dengan lingkungan lembaga keagamaan nasional dan pemerintah pusat maupun daerah serta lembaga keuangan syariah dan korporasi. Yang terkini menapaki proses implementasi Program Nasional Satu Data Masjid Indonesia guna mewujudkan Spirit Masjid berperadaban untuk mewujudkan negeri dan masyarakat yang adil dan Makmur berkemajuan dan 26 berkeadaban
Bekasi 16 April – 2026
Sumber Artikel: Kompasiana
































