SERANG – Ibarat petir di siang bolong, pelantikan Prof. Mohammad Ishom sebagai Rektor Universitas Islam Negeri (UIN) Sultan Maulana Hasanuddin (SMH) Banten periode 2025–2029 langsung menuai badai kecaman. Gerakan KAWAN menuding Menteri Agama RI, Nasaruddin Umar, telah melukai integritas akademik dengan melantik sosok yang diduga kuat terjerat plagiasi.
Ketua Umum Gerakan KAWAN, Kamaludin SE, menegaskan bahwa persoalan ini bukan sekadar isu personal, melainkan ancaman serius terhadap marwah keilmuan perguruan tinggi Islam.
“Plagiasi adalah dosa akademik terbesar. Bagaimana mungkin seorang rektor, yang seharusnya jadi teladan, justru terjerat dugaan penjiplakan? Jika benar terbukti, konsekuensinya jelas: pencabutan gelar hingga pemberhentian jabatan,” tegasnya, Jumat (23/8/2025).
Dugaan Plagiat: Retakan di Dinding Akademik
Isu plagiasi Prof. Ishom mencuat setelah pegiat literasi Banten, Sulaiman Djaya, menemukan kemiripan karya antara Ishom dan tulisan Dr. Ayang Utriza Yakin. Bahkan, Dr. Ayang secara terbuka menyatakan karyanya telah dijiplak dan siap membeberkan bukti bila kasus ini dibiarkan tenggelam.
Gerakan KAWAN memperingatkan, sikap abai terhadap persoalan ini akan meruntuhkan reputasi UIN SMH Banten di mata akademisi dunia. “Dunia internasional sangat sensitif terhadap isu plagiarisme. Jika ini dibiarkan, akreditasi dan kerja sama global UIN bisa hancur seketika,” ujar Kamaludin.
UU Guru dan Dosen Dilabrak, Preseden Terulang
KAWAN menilai, pelantikan ini jelas bertentangan dengan Undang-Undang Nomor 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen, yang menegaskan dosen wajib menjunjung tinggi integritas akademik. Pelanggaran serius seperti plagiasi dapat berujung sanksi administratif hingga pemecatan.
Lebih jauh, Kamaludin mengingatkan preseden yang pernah terjadi.
“Rektor UIN Walisongo, Imam Taufiq, dicopot karena terbukti plagiat. Lalu kenapa di UIN SMH Banten, justru plagiator dilantik? Apakah Kemenag memakai standar ganda?” sindirnya.
Tuntutan: Cabut Mandat, Selamatkan Integritas
Gerakan KAWAN mendesak Menteri Agama segera meninjau ulang keputusan pelantikan. Mereka menilai, membiarkan Ishom tetap menjabat sama dengan mengajarkan mahasiswa bahwa manipulasi bisa mengalahkan kejujuran.
“Rektor adalah simbol moral. Jika simbol ini rusak, rusak pula generasi yang dibinanya. Kami menuntut agar Prof. Ishom segera dicopot sampai kasus ini tuntas. Jika tidak, kami siap menggalang dukungan publik, akademisi, dan mahasiswa,” tegas Kamaludin.
Ancaman Runtuhnya Marwah Banten
Gerakan KAWAN menutup sikapnya dengan peringatan keras: bila dugaan plagiasi ini tidak ditangani secara transparan, UIN SMH Banten akan tercatat bukan sebagai kampus Islam unggulan, melainkan sebagai kampus yang merayakan kecurangan akademik.
“Sebagai kampus Islam, UIN SMH seharusnya menjadi mercusuar moralitas dan ilmu pengetahuan. Namun jika benar rektornya terjerat plagiasi, bukan hanya kampus yang tercoreng, tapi juga wajah Banten—tanah para ulama dan jawara—akan runtuh di mata publik,” pungkasnya. (Rst)

































