Siti Rafida Maldah, mahasiswi STIT Assa’adiyyah asal Cipanas, Desa Sindang Jaya, Kecamatan Cipanas Jawa Barat
Cipanas, Pajajaranupdate.Com– Dunia pendidikan saat ini dihadapkan pada tantangan besar, yaitu krisis hubungan antara pendidik dan murid. Fenomena murid yang menantang gurunya, bahkan ada yang berani melawan secara fisik dan verbal, menjadi kabar yang sering kita dengar. Sebaliknya, tidak sedikit pula pendidik yang lupa akan amanahnya, bersikap kasar, atau tidak mampu menjadi teladan bagi murid.
Siti Rafida Maldah, mahasiswi STIT Assa’adiyyah asal Cipanas, Desa Sindang Jaya, Kecamatan Cipanas, mengatakan bahwa fenomena ini menandakan bahwa hubungan antara pendidik dan peserta didik ini mulai kehilangan arah. “Yang seharusnya penuh kasih sayang, saling menghormati, berlandasan niat suci tulus untuk menuntut ilmu,” ujarnya.
Dalam Islam, pendidikan bukan sekedar transfer pengetahuan, tetapi proses pembentukan akhlak. Rasulullah SAW bersabda, “Sesungguhnya aku diutus untuk menyempurnakan akhlak yang mulia” (HR Ahmad). Tujuan utama pendidikan sejati adalah membentuk manusia yang berilmu dan beradab.
Namun, krisis yang kita saksikan hari ini bukan hanya sosial sistem, tetapi juga krisis murid yang menantang gurunya, merasa dirinya benar, karena didukung media sosial yang serba bebas. Sampai guru kehilangan wibawa, dan sekolah yang seharusnya menjadi tempat tumbuhnya ilmu dan akhlak, kini berubah menjadi ruang yang penuh ketenangan.
Allah SWT telah mengangkat derajat mereka yang berilmu, dalam surat Al-Mujadilah ayat 11, Allah berfirman, “Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antara kamu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat” (QS. Al-Mujadilah: 11).
Masalah pendidikan yang ramai diperbincangkan sekarang, mulai dari rendahnya moral siswa, tekanan administrasi terhadap guru, hingga dampak digitalisasi yang membuat interaksi kian kering, menunjukkan bahwa kita perlu mengembalikan ruh pendidikan kepada nilai-nilai keislaman dan kemanusiaan.
Guru bukan hanya pengajar, tetapi pembimbing hati. Murid bukan hanya penerima ilmu, tetapi penuntut kebenaran. Rasulullah SAW juga bersabda, “Barang siapa menempuh jalan untuk mencari ilmu, maka Allah akan memudahkan baginya jalan menuju surga” (HR Muslim).
Hadis ini seharusnya menjadi cambuk bagi keduanya, baik guru maupun murid, untuk kembali menata niat dan sikap. Guru mendidik dengan hati, bukan sekedar mengajar nilai. Murid menuntut ilmu dengan hormat, bukan hanya mencari ijazah.
Dan kini, saatnya kita kembali ke jati diri pendidikan yang sejati, menumbuhkan manusia yang beradab, beriman, dan berilmu. Karena jika ada bilang, maka sehebat apapun kurikulum, secanggih apapun teknologi, pendidikan akan kehilangan maknanya.
Sebagai pendidik, kita perlu menanamkan kesabaran dan kasih dalam mendidik. Sebagai murid, kita wajib menumbuhkan rasa hormat dan syukur atas ilmu yang diberikan. Hanya dengan sinergi keduanya, ruh pendidikan akan hidup kembali, bukan sekedar di ruang kelas, tetapi juga di hati setiap insan yang mencintai ilmu.
(Usman) **

































