BANDUNG – Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Kota Bandung menggelar kegiatan doa bersama lintas agama sebagai rangkaian penutup tahun 2024 dan menyambut tahun 2025 bertempat di pendopo walikota bandung selasa 30/12/2025.
Kegiatan ini dihadiri oleh perwakilan dari enam agama, yakni Islam, Katolik, Protestan, Hindu, Buddha, dan Khonghucu.
Ketua FKUB Kota Bandung, Prof Dr. H. Ahmad Suherman, M.Pd., menyatakan bahwa kegiatan ini merupakan bentuk syukur sekaligus permohonan kepada Tuhan Yang Maha Esa agar kerukunan di Kota Bandung tetap abadi.
“Kami memohon kepada Tuhan, jika selama tahun 2024 (2025 dalam konteks pembicaraan) banyak kesalahan, mohon dihapuskan, dan semoga di tahun-tahun mendatang kita bisa menjadi lebih baik tanpa berbuat salah lagi,” ujar Prof. Ahmad saat ditemui setelah kegiatan doa bersama.
Sepanjang masa Natal dan akhir tahun, FKUB aktif mengunjungi berbagai gereja untuk menyampaikan pesan-pesan perdamaian. Prof. Ahmad menekankan tiga poin utama yang terus diusung FKUB
Menjaga persatuan dan kesatuan bangsa.
Memelihara kerukunan antar umat beragama Menciptakan kehidupan yang harmonis dan toleran tanpa memandang suku maupun agama.
Ia juga menyampaikan rasa syukurnya karena sejauh ini tidak ada perselisihan antarumat beragama yang signifikan di Kota Bandung. “Kalaupun ada riak-riak kecil, selalu bisa kita selesaikan secara humanis,” tambahnya.
Dalam wawancara tersebut, Prof. Ahmad juga menjelaskan sejarah dan filosofi di balik Kampung Toleransi yang pertama kali dibentuk di Kota Bandung pada tahun 2016. Menurutnya, pemilihan kata “Kampung” merujuk pada semangat gotong royong, keakraban, dan kehidupan yang rukun tanpa membedakan status sosial.
“Bandung adalah pelopor Kampung Toleransi di Indonesia. Awalnya kami ingin menamakan Kelurahan Kerukunan, namun setelah berdiskusi dengan para ahli, kami sepakat bahwa toleransi itu tingkatannya lebih tinggi. Jika sudah toleran, pasti rukun,” jelasnya.
Hingga saat ini, sudah terdapat enam Kampung Toleransi di berbagai kecamatan di Bandung. FKUB menargetkan untuk menambah setidaknya dua Kampung Toleransi lagi pada tahun 2026 sebagai upaya mitigasi dini terhadap potensi konflik sosial di masyarakat.
Meski hubungan antar tokoh agama di tingkat atas sudah sangat harmonis, Prof. Ahmad mengakui tantangan terbesar masih ada di tingkat akar rumput (grassroots).
“Kalau di antara para tokoh, kita tinggal ‘ngariung’ (berkumpul) saja sudah selesai. Namun, untuk menjangkau hingga ke lapisan masyarakat terbawah, memang memerlukan waktu dan proses yang cukup lama. Itulah tugas kita bersama ke depan,” tutupnya.






























