Cianjur, – Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Cianjur menggelar Pagelaran Budaya Nusantara Lintas Iman 2025, sebuah acara yang isinya penuh warna, penuh budaya, dan penuh senyum, pokoknya kalau datang pasti susah pulang.
Acara ini digelar untuk memperingati Hari Toleransi Internasional dan dihadiri oleh 19 etnis dari berbagai penjuru Cianjur. Berlangsung di Hotel Palace, Desa Cipanas, Kamis (14/11/2025).
Ketua FKUB Cianjur, KH. M. Choirul Anam MZD, menjelaskan bahwa Hari Toleransi Internasional sebenarnya sudah ditetapkan PBB sejak 1996. Cuma, ya begitu… “popularitasnya” masih kalah jauh dari hari Valentine atau hari gajian.
“Hari ini momentum bagi kita semua untuk saling memahami dan memperkuat rasa persaudaraan,” ujarnya. Intinya, jangan sampai beda iman malah jadi bahan debat sampai lupa makan.
Anam mengungkapkan, FKUB Cianjur sudah cukup lama bergerak dalam urusan keberagaman. Tahun 2023 mereka meresmikan Lembur Toleransi Satyawanaran, tahun berikutnya gelar budaya lintas agama. Tahun ini? Dua hari full acara. Pokoknya kalau toleransi itu lomba lari, FKUB sudah dapat medali emas.
“Hari ini pagelaran Nusantara lintas iman, besok kirab budaya lintas iman. Kita pakai istilah ‘iman’ karena yang ikut bukan hanya dari agama-agama besar. Ada Sunda Wiwitan, Ahmadiyah, LDII, kejawen… pokoknya lengkap, tinggal bikin kartu member saja,” katanya sambil bercanda.
Kirab besok akan dimulai dari Masjid As-Salafiyah Pacet dan berakhir di Satyawanaran, dengan sekitar 1.000 peserta. Setelah jalan jauh, peserta akan makan liwet bersama—karena katanya, makan bareng itu cara tercepat memperbaiki hubungan, bahkan dengan mantan sekalipun. Rangkaian acara ini ditargetkan masuk rekor MURI.
Anam kembali mengingatkan bahwa perbedaan adalah hal yang wajar dan indah.
“Taman bunga indah karena warna-warni. Coba kalau satu warna semua, mirip cat tembok baru dicat. Membosankan. Jadi keragaman ini harus dirawat,” tuturnya.
Warga dari berbagai suku di Cianjur ikut memeriahkan acara, termasuk para mahasiswa STTC, sekolah tinggi teologi, dan berbagai etnis lain yang mewakili banyak provinsi di Indonesia.
Ia juga menyinggung masa ketika Cianjur sempat dicap sebagai daerah intoleran. Tapi menurutnya, stigma itu perlahan memudar.
“Kalau kita terus bikin acara seperti ini, label intoleran itu nanti hilang sendiri. Kayak noda baju dicuci pakai deterjen,” ujarnya.
Menutup keterangannya, Anam menyampaikan bahwa FKUB berencana meresmikan Kampung Kerukunan di Ciranjang pada akhir Desember. Ibarat menambah “cabang” baru dalam misi menjaga kedamaian Cianjur, (Red)






























