Kendari – Eksekutif Wilayah Liga Mahasiswa Nasional untuk Demokrasi (EW-LMND) Sulawesi Tenggara menyatakan penolakan tegas terhadap wacana penetapan Soeharto sebagai Pahlawan Nasional. EW-LMND menilai langkah tersebut sebagai bentuk pelupaan sejarah yang disengaja dan upaya mengembalikan legitimasi politik Orde Baru dalam lanskap kekuasaan hari ini.
Ketua EW-LMND Sultra, [Bung Halim], menyebut bahwa negara sedang berada dalam situasi bahaya memori, di mana kekuasaan berusaha membangun narasi baru yang memutihkan kejahatan masa lalu.
“Sejarah tidak boleh ditulis oleh para pemenang yang menutupi darah pada tangannya. Menjadikan Soeharto pahlawan sama artinya dengan menghapus air mata ibu-ibu yang kehilangan anaknya, mahasiswa yang diculik, dan rakyat yang dibungkam.”, ujarnya.
Soeharto Tidak Layak Disebut Pahlawan
EW-LMND Sultra menegaskan bahwa rezim Orde Baru di bawah Soeharto:
Menghancurkan demokrasi dan kebebasan sipil, dengan membungkam kritik dan oposisi politik.
Melakukan pelanggaran HAM berat, termasuk pembantaian massal dan penculikan aktivis.
Membangun pondasi oligarki dan korupsi struktural yang masih membelenggu perekonomian nasional hingga kini.
Mengakumulasi kekayaan keluarga dan kroni, sementara kesejahteraan rakyat dikorbankan.
“Mereka ingin membangun mitos pahlawan, padahal yang dipertontonkan adalah penipuan moral paling telanjang dalam sejarah bangsa.”, tambah [Nama Ketua].
Bentuk Pengkhianatan Terhadap Reformasi
Bagi EW-LMND Sultra, pemberian gelar pahlawan kepada Soeharto merupakan penghianatan terhadap gerakan reformasi 1998 yang diperjuangkan dengan darah dan nyawa.
“Reformasi tidak lahir dari kesadaran negara, tetapi dari perlawanan rakyat. Dan kini mereka ingin mencabut ingatan itu.”
EW-LMND Sultra menyerukan kepada mahasiswa, pelajar, buruh, petani, dan seluruh rakyat bergerak bersama melawan pengaburan sejarah.
“Bangsa yang lupa sejarah bukan hanya tidak bermartabat — ia sedang menuju jurang kegelapan yang sama.”
Laporan : Redaksi






























