BANDUNG – Menjelang peringatan Hari Kemerdekaan Republik Indonesia ke-80, wajah Kota Bandung mulai dipenuhi lautan merah putih. Sejak awal Agustus, deretan lapak bendera bermunculan di sudut-sudut jalan, menjadi warna khas yang menandai bulan penuh nasionalisme.
Di Jalan Siliwangi, Jalan Supratman, hingga pusat-pusat keramaian, bendera berbagai ukuran dan model berkibar di tiang-tiang display para pedagang. Ada bendera kotak merah putih yang akrab menghiasi rumah, bendera berhias lambang garuda, hingga bendera raksasa sepanjang 20 meter untuk gedung instansi.(15/8/2025)
Agus Junaedi, pedagang yang telah menapaki dunia usaha bendera sejak 2004, setia membuka lapaknya di lokasi yang sama setiap 1–16 Agustus.
“Yang paling laku itu bendera merah putih biasa. Kebanyakan pembelinya dari kantor-kantor,” ujarnya.
Meski omzetnya sempat surut akibat persaingan penjualan online, Agus tetap menjaga semangatnya untuk menyediakan bendera berkualitas.
Di sudut lain, Afildan yang berjualan di Jalan Supratman sejak 2016 mengatakan ragam pembelinya datang dari berbagai kalangan, mulai warga hingga instansi.
“Harga mulai Rp20.000 sampai Rp200.000. Banyak yang datang karena bisa langsung pegang dan lihat bahannya. Kalau barang tidak habis, bisa disimpan untuk tahun depan,” jelasnya.
Sementara itu, Iwan Setiawan, pedagang asal Garut yang telah menjajakan bendera sejak 1980-an, mengaku bendera 20 meter menjadi primadona dagangannya. Omzet hariannya pernah mencapai Rp300.000, namun kini menurun karena maraknya jual beli daring.
“Mudah-mudahan Indonesia makin baik, dan penjualan bendera kembali ramai,” harapnya.
Bagi para pedagang ini, berjualan bendera bukan sekadar mencari nafkah, melainkan menjaga denyut tradisi tahunan yang menghidupkan semangat kemerdekaan di ruang publik. Semarak merah putih yang membanjiri jalanan Bandung menjadi pengingat bahwa di balik setiap kibaran bendera, ada tangan-tangan setia yang memastikan simbol negara itu tetap tegak berdiri setiap bulan Agustus. (Rst)






























