Cianjur – Seperti gunung yang diam namun menyimpan bara, Gunung Gede Pangrango kembali jadi bahan perbincangan serius di Aula Desa Ciloto, Kecamatan Cipanas, Senin (10/8/2025). Pemerintah Desa Ciloto bersama BPBD Kabupaten Cianjur menggelar pelatihan pencegahan dan mitigasi bencana erupsi gunung api, mengingat sejarah yang tak pernah lupa mencatat siklusnya.
Dalam catatan lama, tahun 1957 menjadi saksi letusan terakhir Gunung Gede Pangrango. Jika benar siklus 71 tahun itu berlaku, maka sekitar tahun 2028, alam bisa saja kembali menunjukkan amarahnya. “Kami ingin masyarakat siap, bukan panik,” ujar Kabid Pencegahan dan Kesiapsiagaan BPBD Kabupaten Cianjur, Muhammad Taufik Zuhrizal, di hadapan para perangkat desa dan perwakilan lembaga desa.

Ia menegaskan, tujuan pelatihan ini adalah memberi panduan nyata: apa yang harus dilakukan saat lonceng bahaya dibunyikan. Peserta yang hadir diharapkan menjadi jembatan informasi, membagikan pengetahuan kepada warga yang, di siang hari, sibuk dengan urusan sawah, ladang, atau pasar. “Saat nanti ada kumpulan warga, pesan ini bisa disampaikan, agar tak ada yang lengah,” tambahnya.
Seolah melengkapi bekal kesiapsiagaan, staf pencegahan BPBD, M. Irfan Fauzi, memperkenalkan aplikasi INARISK Personal yang dapat diunduh gratis di Play Store. Aplikasi ini bagaikan kompas di tengah kabut: memberi petunjuk potensi bencana sesuai titik koordinat pengguna, serta langkah-langkah penyelamatan yang tepat.
BPBD juga mengajak masyarakat untuk menghidupkan kembali siskamling. Selain sebagai pagar keamanan kampung, siskamling dapat menjadi genderang tanda bahaya. “Kentungan bisa jadi bahasa darurat yang dimengerti semua orang,” ujar Irfan. Satu dentang bisa menyelamatkan nyawa, sebelum suara gunung menggelegar. (Rst)






























