Kendari – Eksekutif Wilayah Liga Mahasiswa Nasional untuk Demokrasi (EW-LMND) Sulawesi Tenggara menyampaikan seruan terbuka kepada mahasiswa dan rakyat untuk menolak wacana penetapan Soeharto sebagai Pahlawan Nasional. EW-LMND Sultra menilai bahwa upaya tersebut merupakan langkah pemolesan sejarah yang mengabaikan kejahatan kemanusiaan dan kerusakan demokrasi yang terjadi selama rezim Orde Baru.
Ketua EW-LMND Sultra, [Bung Halim], menegaskan bahwa gelar Pahlawan Nasional tidak dapat diberikan kepada sosok yang memimpin rezim penuh pelanggaran HAM, pembungkaman ruang demokrasi, dan korupsi terstruktur.
“Kita tidak boleh membiarkan sejarah bangsa ini direkayasa sesuai kepentingan elite. Soeharto bukan simbol perjuangan rakyat, melainkan representasi kekuasaan otoriter. Memberikannya gelar pahlawan adalah bentuk pengkhianatan terhadap memori korban dan perjuangan reformasi,” tegasnya.
Menurut EW-LMND Sultra, penderitaan yang dihasilkan oleh kekuasaan Soeharto bukan sekadar peristiwa masa lalu, tetapi meninggalkan warisan luka sosial yang masih terasa hingga saat ini. Sistem ekonomi dan politik yang dibangun pada masa Orde Baru telah melahirkan oligarki, yang kini menguasai sumber daya publik dan melemahkan kedaulatan rakyat.
“Bicara Soeharto bukan hanya bicara masa lalu, tetapi bicara struktur ketidakadilan yang hari ini masih mengendalikan arah bangsa. Karena itu penolakan ini bukan nostalgia perlawanan, tetapi kebutuhan politik untuk menyelamatkan demokrasi,” tambah [Bung Halim].
Seruan EW-LMND Sultra:
EW-LMND Sultra mengajak:
Mahasiswa, untuk tetap menjadi barisan kritis dan pengawal demokrasi.
Organisasi kepemudaan dan gerakan rakyat, untuk memperkuat konsolidasi perlawanan.
Masyarakat luas, untuk menolak pemutihan sejarah dan rekayasa legitimasi politik.
Tuntutan Utama:
1. EW-LMND Sultra menolak keras rencana pemberian gelar Pahlawan Nasional kepada Soeharto.
2. Tuntaskan pelanggaran HAM rezim Orde Baru secara hukum dan politik.
3. Hentikan upaya kebangkitan kembali gaya kekuasaan Orde Baru dalam pemerintahan hari ini.
EW-LMND Sultra menegaskan bahwa sejarah tidak boleh direduksi menjadi alat politik para elite, dan ingatan rakyat harus terus dijaga sebagai bentuk perlawanan terhadap ketidakadilan.
“Kita harus tetap ingat, tetap bersuara, dan tetap melawan. Karena bangsa yang membiarkan sejarahnya dipalsukan sedang menggali kuburannya sendiri.”
Laporan : Redaksi






























